Misteri Jati Diri William Shakespeare

Tahukah sobat, dibalik ketenaran Shakespeare ternyata tersimpan misteri besar tentang jati diri dia yang sebenarnya. Sampai saat sekarang banyak perdebatan tentang siapakah sebenarnya William Shakespeare ini….Semuanya masih abu-abu…

Mangga Bikin Sperma Sehat

Memperhatikan kesehatan sperma sangat penting bagi pasangan yang tengah berencana memiliki buah hati. Sama halnya sel telur, kondisi sperma menentukan tingkat kesuburan, bahkan kesehatan keturunannya kelak.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Misteri dan Serbaserbi. Show all posts
Showing posts with label Misteri dan Serbaserbi. Show all posts

Wednesday, May 2, 2012

Evolusi Bikini

Seperti halnya teknologi, busana pun mengalami perkembangan, menyesuaikan diri dengan zaman. Tidak terkecuali, busana renang seksi two piece atau yang dikenal sebagai bikini. Bentuk bikini saat ini merupakan hasil dari sebuah proses evolusi.

Tak banyak yang mengetahui kalau kondisi perang dunia II, ternyata memengaruhi desain bikini masa kini. Tak percaya? Coba saja Sobat W+ tengok sejarah bikini:

Romawi
Bikini era Romawi
Bikini era Romawi
 Bikini sebenarnya telah ada sejak ada zaman romawi kuno. Ini terlihat dari mosaik Villa Romana Del Casale di Sisilia, Italia dari abad ke-4. Dari gambaran mosaik tersebut, terlihat dua orang wanita yang sedang dalam kompetisi olahraga mengenakan dua potong kain yang bentuknya mirip bikini.

1890
Bikini Era 1890
Sebuah ruang ganti dilengkapi roda yang diletakkan di pantai merupakan kelengkapan olimpiade 1890. Ruangan ini berfungsi seperti ruang jahit bagi para wanita yang akan menyambung keliman pakaian dengan stoking. Saat itu baju renang bentuknya seperti gaun pendek dilengkapi dengan penutup kaki.

1907
Bikini Era 1907
Lapisan rok akhirnya memberi jalan untuk baju renang one piece, dan tidak lagi menyembunyikan kontur tubuh wanita. Bentuk bikini modern muncul pada 1907, ketika perenang Australia terlihat mengenakannya di sebuah pantai Boston. 

1940
Bikini Era 1940
Pada sekitar 1940an, rumah mode dibatasi untuk memproduksi busana renang. Ini tak lepas dari suasana perang dunia ke-2, di mana produksi kain berkurang. Pemerintah Amerika Serikat juga mengurangi pesanan kain. Tapi kondisi ini memicu kreativitas seorang pria Prancis. 

1946
Bikini Era 1946
Tepatnya, 5 Jul 1946, seorang insinyur asal Prancis, Louis Reard membuat "busana yang lebih kecil dari busana renang terkecil". Empat hari kemudian, militer Amerika Serikat melakukan tes nuklir di area Bikini Atoll.
Reard lalu menamakan busana renang two-piece buatannya dengan nama bikini, agar temuannya bisa "meledak" seperti nuklir. Tapi, pada awalnya tak ada satupun model yang berani mengenakannya.
Namun akhirnya, ada Micheline Bernardini, seorang penari erotis. Ia merupakan wanita yang pertama kali mengenakan bikini pada 11 Juli 1946 dalam acara mode, Piscine Molitor di Paris.

1951
Bikini Era 1951
Bikini sempat dilarang kontes kecantikan di seluruh dunia. Itu setelah dikenakan oleh kontestan Miss World pertama di London pada 1951. Busana renang tetap dikenakan tapi yang berbentuk one piece. Bikini juga dilarang dikenakan Belgia, Italia, Spanyol dan Australia, bahkan oleh Vatikan dinyatakan sebagai perbuatan dosa jika mengenakannya.  

Era Bridget Bardot
 Bikini Era Bridget Bardot
Popularitas bikini dimulai ketika aktris Prancis Bridget Bardot, tampil di film mengenakan baju renang two piece tersebut. Bikini pun semakin mendunia, bahkan disebut-sebut juga berpengaruh signifikan pada industri mobil Prancis. 

Sekarang
Kini, bikini jadi bagian dari gaya hidup. Coba sobat W+ lihat di pantai-pantai ternama di dunia seperti di Hawai, Miami dan Bali. Pastinya Sobat W+ akan dengan mudah menemukan para wanita berbikini ria, bahkan pria pun tak ketinggalan, contohnya saja gambar di bawah ini:


dan ternyara terbukti Sobat W+, emansisapi bukan hanya milik wanita, tapi juga pria :)

Sumber: vivanews.com

Saturday, April 28, 2012

Wanita Feminim Cenderung Ingin Banyak Anak



Jika penasaran apakah wanita impian Anda menginginkan sebuah keluarga besar, perhatikan saja wajahnya. Wanita dengan penampilan feminin dan keibuan cenderung mengharapkan memiliki banyak anak.

Semakin banyak fitur feminin yang membuat penampilan mereka terlihat lebih lembut, semakin besar kemungkinan seorang wanita mendamba anak. Wajah feminin ditandai dengan mata besar, bibir penuh dan hidung mancung.


Ilmuwan dari Universitas St Andrews percaya temuan mereka dapat dijelaskan dengan hormon seks, estrogen. Semakin tinggi level hormon ini di tubuh wanita, membuat mereka semakin lembut dan makin tinggi pula naluri keibuan mereka.

Hubungan antara keinginan memiliki anak dengan penampilan feminin disebut ada pada bintang Hollywood, Angelina Jolie. Jolie memiliki tiga anak adopsi dan tiga orang anak kandung dengan Brad Pitt. Model Heidi Klum dan penyanyi Madonna juga selebritas yang memiliki masing-masing empat orang anak.

Selama riset, peneliti meminta 25 wanita muda menjawab pertanyaan mengenai berapa jumlah anak yang mereka inginkan dan kapan mereka ingin mempunyai anak. Setelahnya tingkat estrogen mereka diperiksa.

Miriam Law Smith dari Lab Persepsi Universitas St Andrews yang mengkhususkan pada riset wajah berkata, "Semakin banyak estrogen dalam tubuh, semakin banyak anak yang mereka inginkan. Kami terkejut menemukan hasil ini," katanya kepada Daily Mail.

Tingkat estrogen tidak terkait dengan usia saat wanita memulai keluarga, tetapi para peneliti percaya ini mungkin karena, sebagian besar wanita muda karier lebih menjadi prioritas.

Dalam percobaan kedua, dua kelompok wanita difoto dan ditanyakan keinginan mereka untuk memiliki anak. Dari sini, Law Smith menciptakan citra komposit wajah dengan naluri keibuan terkuat. Mereka inilah yang paling tertarik membangun keluarga.

Studi yang dimuat dalam Jurnal Hormones and Behavior menyebutkan, wajah wanita keibuan cenderung dianggap lebih feminin oleh relawan pria dan wanita. Rata-rata, wanita keibuan mendamba momongan 4,3 orang, hampir tiga kali lebih banyak daripada mereka yang paling tidak feminin.

Namun, studi juga menemukan fitur wajah hanya memengaruhi 20 persen keputusan seorang wanita mengenai jumlah anggota keluarga. Hal lain yang memengaruhi adalah faktor-faktor sosial, termasuk pendidikan dan finansial

Sumber: vivanews.com dengan pengubahan seperlunya


Thursday, April 26, 2012

Misteri Jati Diri William Shakespeare


Setahu wawasan+, cerita Romeo & Juliet ditulis oleh seorang Inggris bernama William ShakeSpeare. Ini cerita begitu menginspirasi dan sudah banyak dipentaskan oleh para seniman dan di apresiasi oleh para kritikus sastra. Romeo & Juliet adalah salah satu karya terbesar Shakespeare. Masih banyak maha karya lainnya. Setidaknya dia menulis 36 naskah, termasuk adikarya semacam Hamlet, Machbet, King Lear, Julius Caesar, Othello, de el el. Tapi tahukah sobat, dibalik ketenaran Shakespeare ternyata tersimpan misteri besar tentang jati diri dia yang sebenarnya. Sampai saat sekarang banyak perdebatan tentang siapakah sebenarnya William Shakespeare ini….Semuanya masih abu-abu…
Karena penasaran, wawasan+ mencoba menggali dari berbagai sumber informasi, menganalisa berbagai kemungkinan dan mempertimbangkan berbagai opsi, buka buku, tanya Mbah Google, sehingga lahirlah beberapa argumen tentang William Shakespeare. Nah…inilah hasil penemuan yang wawasan+ dapatkan:
1. William Shakespeare adalah William Shakespeare
Potret William Shakespeare

Menurut versi resminya, yang berasal dari pandangan ortodoks, William Shakespeare lahir di Inggris, di sebuah daerah yang bernama Stratford-upon-Avon pada tahun 1564 dan wafat di sana pada 1616. Selama hidupnya , Shakespeare tidak dianggap sebagai penulis, bahkan dia juga tak pernah mengklaim diri sebagai penulis. Shakespeare baru dikenal sebagai penulis pada tahun 1623, tujuh tahun setelah kematiannya. Ketika edisi pertama naskah-naskah Shakespeare muncul, editor buku menyertakan sebuah tulisan pengantar, dimana disinggung secara terus menerus (walaupun tidak secara langsung) bahwa orang dari Stratford-upon-Avon lah yang menulis naskah-naskah yang ada dalam buku tersebut. Ayah Shakespeare adalah seorang yang dulu pernah kaya, namun jatuh miskin. William kecil hidup dan dibesarkan dalam kemiskinan, namun dia masih dapat menempuh pendidikan di Stratford Grammar School, di mana dia belajar bahasa Latin dan sastra klasik.

Ketika William berusia 18 tahun, dia menghamili seorang wanita muda bernama Anne Hathaway. Dia akhirnya menikahi wanita tersebut dan Anne melahirkan beberapa bulan kemudian. Dua setengah tahun kemudian, Anne melahirkan lagi anak kembar untuk William. Jadi sebelum berusia 21 tahun, William sudah harus menafkahi tiga orang anak dan satu orang istri.

Pada awal 1590-an, William berada di London dan bekerja sebagai salah seorang anggota pertunjukan keliling. William cukup sukses menjadi seorang aktor, namun dengan segera dan entah kenapa, dia beralih pada penulisan naskah dan puisi. Pada 1598, William telah dipuji sebagai penulis terbesar di Inggris. Shakespeare tinggal di London selama kurang lebih 20 tahun. Selama itu, dia telah menghasilkan 36 drama, 154 soneta, dan beberapa puisi yang lebih panjang. Dalam beberapa tahun dia menjadi kaya-raya dan pada tahun 1597, dia sanggup membeli rumah (“New Place”) di Stratford. Keluarganya tetap tinggal di Stratford dan dialah yang menyokong hidup keluarganya.

Anehnya, William tak pernah menerbitkan satu pun drama hebat yang dia tulis. Namun para penerbit licik yang menyadari nilai komersil naskah-naskah tersebut, menerbitkan nyaris separuh karyanya dalam bentuk edisi-edisi bajakan. Walau edisi-edisi bajakan tersebut sering kali salah cetak, Shakespeare sama sekali tidak mencegah.




Salah Satu Karya Shakespeare "Hamlet"


Pada tahun 1612, saat berusia 48 tahun, Shakespeare mendadak pensiun dari kegiatan menulis, kembali ke Stratford, dan meneruskan kehidupan bersama istrinya. Dia wafat di sana pada April 1616 dan dimakamkan di pekarangan gereja. Batu nisan yang diduga merupakan makamnya tidak ditulisi namanya. Namun akhirnya, didirikanlah sebuah monumen di salah satu dinding di dekat sana. Tiga minggu sebelum wafat, William menulis surat wasiat dimana meninggalkan sebagian besar hartanya kepada putri tertuanya , Susanna.


Cerita di atas menurut wawasan+ sungguh dramatis sekali, seperti di sinetron-sinetron. Pertama hidup susah, terus menghamili anak orang, menikah, punya anak, lalu pergi merantau ke Ibu Kota, kemudian sukses di Ibu Kota, menjadi ternama, punya harta berlimpah, akhirnya pensiun, lalu pulang kekampung halaman sampai ajal menjemput. Namun apakah cerita tersebut benar benar dapat mewakili kebenaran jati diri seorang William Shakespeare, Sang penulis legendaris?


Setelah dilakukan penelitian, pengamatan dan investigasi dari para pencari kebenaran yang skeptis dengan keaslian cerita di atas, maka ditemukanlah beberapa kejanggalan. Misalnya, tidak ada catatan resmi di mana Shakespeare dinyatakan pernah menjadi siswa di Stratford Grammar School. Kemudian tidak ada juga siswa atau guru di sana yang mengklaim pernah menjadi teman sekelas atau pengajar Shakespeare. Lalu tidak begitu jelas kebenaran apakah dia pernah memiliki karier gemilang selaku aktor.


Sekilas cerita resmi di atas, yang telah di Amini oleh berbagai kalangan selama ratusan tahun, terdengar masuk akal. Akan tetapi, setelah diteliti lagi lebih dalam, berbagai permasalahan pun bermunculan.


Masalah pertama, bahkan disebutkan sendiri oleh para penulis biografi ortodoks, bahwa informasi soal kehidupan Shakespeare sangatlah sedikit, bahkan jauh lebih sedikit dari yang diharapkan dari seorang tokoh ternama. Dalam usaha menjelaskan permasalahan ini, orang dapat saja berkata, “Shakespeare hidup nyaris 400 tahun lalu, wajar donk sebagian besar dokumen tentang dirinya atau yang ditulis sendiri olehnya hilang.” Kalau menurut wawasan+, perkataan seperti itu terlalu meremehkan jaman di mana Shakespeare hidup. Shakespeare tidak hidup di sebuah negeri terbelakang, zaman batu, atau zaman barbar tapi di Inggris, di masa Ratu Elizabeth I berkuasa. Sebuah masa yang terdokumentasi dengan baik, di mana terdapat mesin cetak, di mana tulisan yang dicetak mudah ditemui, dan dimana terdapat banyak orang yang melek huruf. Tentu saja, banyak dokumen yang telah lenyap, namun beberapa juta dokumen asli dari masa itu masih terpelihara sampai sekarang. Hal Ini sangat berkebalikan dengan Isaac Newton, seorang jenius dari Inggris, yang lahir 26 Tahun setelah Shakespeare meninggal. Dokumen asli tentang Isaac Newton sendiri terdiri atas ribuan dokumen. Begitu juga dengan Galileo (yang dilahirkan di tahun yang hampir bersamaan dengan Shakespeare), Michelangelo (dilahirkan 89 tahun lebih awal) atau bahkan Boccaccio (lahir tahun 1313).


Permasalahan besar dan berdampak penting terhadap eksisnya Shakespeare, dengan keharusan adanya bukti dokumen, adalah fakta bahwa Shakespeare sendiri selama di London nyaris tidak dikenal orang. Shakespeare konon menghabiskan hampir 20 tahun di London, akan tetapi tidak ada satu pun catatan pada rentang 20 tahun itu, di mana ada yang melihat aktor atau penulis naskah ternama ini dengan mata kepala sendiri. Ketika orang misalnya melihat aktor ternama Nicolas Cage atau bertemu dengan penulis ternama JK Rowling, pasti ada orang yang menulis peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang perlu dicatat. Tapi apakah masuk akal jika orang-orang yang ada di sekitar Shakespeare, selama 20 tahun masa keemasannya di London, menyaksikan Shakespeare di atas panggung, mendiskusikan syair bersamanya, atau berkorespondensi dengannya, orang-orang tersebut tak merasa pertemuan itu layak untuk didokumentasikan, walaupun hanya dalam bentuk catatan-catatan kecil?


Permasalahan ke dua, Bagaimana dengan naskah drama yang ditulis tangan oleh Shakespeare sendiri? Pastinya itu akan membuktikan bahwa dialah sang penulis legendaris. Sayangnya, tidak ada naskah drama yang ditulis denga tulisan tangannya, atau pun coret-coretan awal, fragmen-fragmen, atau pun karya-karya yang belum diterbitkan . Tidak ada catatan, tidak ada buku catatan, tidak ada memoranda, tidak ada diary. Tidak ditemukan surat pribadi yang ditulis oleh dirinya, bahkan juga surat-surat bisnis sekali pun (para penulis biografinya yang paling awal juga mengaku tidak pernah melihat dokumen yang ditulis dengan tulisan tangan Shakespeare). Melihat kenyataan seperti ini, tampaknya Shakespeare sama sekali bukan penulis, bisa jadi hampir tidak dapat menulis, atau pendapat yang lebih ekstrim, dia mungkin saja adalah seorang buta aksara.


Hal yang menarik dan terkait dengan pernyataan barusan adalah tentang keluarga Shakespeare. Kedua orang tua, istri dan anak-anak Shakespeare semuanya buta aksara. Secara logika, umumnya orang tua pasti tidak akan membiarkan anaknya lebih rendah dari pada dirinya. Orang tua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka bisa berhasil melebihi dirinya. Jika Shakespeare memang Shakespeare sang penulis legendaris, dialah satu-satunya penulis besar dalam sejarah yang membiarkan anak-anaknya buta aksara.


Permasalahan ke tiga adalah tentang surat wasiat Shakespeare. Dokumen aslinya dapat ditemukan dengan panjang tiga halaman. Disana ditulis daftar hartanya secara rinci, dengan banyak warisan ditetapkan secara spesifik. Anehnya, pada surat wasiat tersebut sama sekali tidak disebutkan masalah puisi, drama, naskah, karya yang sedang digarap, atau hak penerbitan apa pun. Disana juga tidak disebutkan soal buku-buku atau kertas kerjanya. Tidak ada petunjuk bahwa dia ingin naskah-naskahnya yang belum terbit untuk diterbitkan atau bahwa dia pernah menulis puisi atau drama dalam hidupnya.


Salah Satu Potongan Surat Wasiat William Shakespeare

Permasalahan ke empat, pada masa Shakespeare biasanya para penyair Inggris menyelenggarakan pemakaman-pemakaman megah dan mengarang eulogi-eulogi panjang nan indah jika salah satu rekan mereka wafat. Meninggalnya Shakespeare pada 1616 sama sekali tidak disebut penulis mana pun di Inggris. Disini terlihat bahwa tak ada kaitan antara para penyair pada masa tersebut dengan seseorang yang dianggap penulis dari Stratford ini.


Permasalahan kelima adalah sikap terhadap Shakespeare di Stratford-upon-Avon. Walaupun Shakespeare dianggap sebagai penulis terbesar di Inggris dan seorang aktor ternama, tidak seorang pun di kampung halamannya yang menyadari dirinya sebagai pesohor. Ini sungguh mengherankan karena dari kisah yang ada, awalnya Shakespeare ini miskin, lantas setelah merantau dia jadi kaya-raya. Perubahan ini pastinya membuat sanak dan kerabat terheran-heran dan ingin mengetahui apa yang dilakukannya pada saat merantau. Tapi kenyataannya, selama masa hidupnya, tidak satu pun sanak, kerabat, bahkan keluarganya sendiri, yang pernah merujuk Shakespeare sebagai aktor, penulis naskah, atau tokoh sastra dalam bentu apa pun.


Permasalahan ke enam, biasanya kebanyakan penulis drama dan fiksi menyertakan kejadian-kejadian dalam kehidupan mereka dalam tulisan-tulisan yang mereka ciptakan. Tapi drama-drama Shakespeare nyaris tidak punya insiden atau lingkup yang dapat dirunut pada pengalaman Shakespeare sendiri.


Permasalahan ke tujuh, harusnya William Shakespear ini orang terpelajar. Coba perhatikan kosa katanya yang begitu tinggi, keakrabannya dengan bahasa Latin dan Prancis, pengetahuan akuratnya soal istilah-istilah hukum dan pengetahuan luasnya tentang sastra klasik. Akan tetapi semua orang pasti sepakat bahwa Shakespeare tidak pernah kuliah, malah seperti yang sudah di paparkan sebelumnya, dia diragukan pernah mengikuti pendidikan dasar.


Permasalahan ke delapan, Shakespeare (yang benar-benar penulis) kelihatannya memiliki simpati pada kaum aristokrat / bangsawan dan juga berlatar belakang aristokrasi, sangat mengenal kegemaran aristokrasi (seperti berburu rubah dan burung elang), serta akrab dengan kehidupan istana dan intrik-intriknya. Sedangkan Shakespeare sendiri datang dari sebuah kota kecil dan memiliki latar belakang borjuis kecil, bahkan dia bukanlah seorang aristokrat yang tinggal di istana, dan tidak memiliki gaya hidup layaknya seorang bangsawan.


Satu-satunya penjelasan yang bisa diterima akal sehat adalah “William Shakespear” hanyalah nama pena yang digunakan si penulis dalam upaya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Upaya itu sangat berhasil sampai-sampai orang disekitarnya atau pun yang berjumpa dengannya, tidak menyadari bahwa mereka sedang berjumpa dengan William Shakespeare yang terkenal itu. Bagi wawasan+ pribadi, argumentasi-argumentasi di atas sepertinya sudah cukup untuk membuktikan Shakespeare bukanlah penulis naskah dan “William Shakespeare” adalah nama pena untuk menyembunyikan identitas asli dari penulis kisah Romeo & Juliet tersebut.


2. William Shakespeare adalah Edward De Vere


Edward De Vere


Kenapa Edward De Vere diduga sebagai Shakespear?
Nah…Sobat nantinya akan diajak untuk menelusuri riwayat kehidupan Edward De Vere. Nanti sobat akan melihat banyak sekali kemiripan kisah hidup De Vere dengan kisah-kisah yang ada dalam karya Shakespeare. Kita pastinya sepakat seorang penulis puisi atau drama, sedikit banyaknya pasti menuangkan kisah hidupnya sendiri dalam karya-karya nya. Di samping itu, dari kisah hidupnya (seperti latar belakang, tingkat pendidikan akademis, dan orang di sekitarnya) memungkinkan dugaan bahwa dialah seorang Shakespeare. Nah…biar ga penasaran, silakan Sobat baca bacaan berikut ini, kisah hidup De Vere, Sang bangsawan Inggris…

Edward De Vere dilahirkan pada tahun 1550, seorang putra pewaris Earl of Oxford ke-16, seorang aristokrat kaya raya dan berpangkat tinggi. Sebagaimana kewajiban pewaris gelar, Edward muda menerima pelatihan keterampilan yang harus dikuasai seorang tuan muda (menunggang kuda, kemiliteran, berburu, seni, dansa, musik, de el el). Pendidikan akademiknya juga tak diabaikan. Dia sendiri memiliki guru privat, baik dalam Bahasa Prancis maupun Latin, dan juga mata pelajaran lainnya. Akhirnya, dia mendapatkan gelar sarjana muda dari Universitas Cambridge dan gelas master dari Oxford. Setelah itu, dia belajar hukum selama satu tahun di Gray’s Inn, salah satu Inns of Court terkenal di London.

Ayah Edward meninggal saat dirinya berusia 12 tahun dan ibunya kemudian menikah lagi. Edward tinggal dengan ibunya tapi itu tidak bertahan lama. Dia akhirnya menjadi bangsawan asuh dan dididik oleh seorang ayah angkat. Ayah angkat yang ditunjuk untuk Edward adalah William Cecil, seorang bendahara kerajaan Inggris dan bertahun-tahun menjadi dewan penasehat pribadi Ratu Elizabeth I. Sebagai seorang penasehat senior sang ratu, Cecil praktis menjadi orang yang paling berkuasa dan berpengaruh di Inggris. Akhirnya De Vere muda sesuai dengan hak kebangsawanannya, diperlakukan dengan baik sebagai salah satu anggota keluarga Cecil.

Pada akhir masa remajanya, De Vere diperkenalkan dengan Balairung. Di sini dia bertemu dengan tokoh terkemuka, termasuk ratu sendiri. Ratu sangat terkesan dengan pria muda ini. Selain cerdas, atletis, dan berkarisma, dia juga sangat tampan. Dia pun segera menjadi salah satu favorit ratu.

Ketika berusia 21 tahun, De Vere menikahi Anne Cecil, putri ayah angkatnya sendiri. Karena dibesarkan bersama, dan Anne nyaris seperti adik kecil bagi De Vere, pernikahan mereka agak diluar kebiasaan. (Hal ini mirip dengan karya Shakespeare, kisah Posthumus Leonatus, pahlawan dalam drama Cymbeline, juga seorang bangsawan angkat yang menikahi putri ayah angkatnya sendiri.)

Ketika berusia 24 tahun, De Vere berangkat untuk berpetualang menjelajahi Eropa. Dia mengunjungi Prancis dan Jerman, menghabiskan waktu sekitar 10 bulan di Italia, lalu kembali ke Inggris melalui Prancis. Pada perjalanan menyebrangi selat Inggris, kapal De Vere diserang bajak laut yang berencana menyandera para penumpang untuk mendapatkan tebusan. De Vere memberi tahu bajak laut soal kedekatan pribadinya dengan Ratu Elizabeth. Akhirnya para pembajak merasa akan lebih baik jika dia dilepaskan tanpa meminta uang tebusan, dari pada meminta uang tebusan tapi dengan resiko yang sangat besar. (Insiden ini juga menimpa pahlawan dalam drama Hamlet)

Sementara itu, Anne istrinya melahirkan seorang putri. Anak tersebut lahir delapan bulan setelah De Vere meninggalkan Inggris. De Vere bersikeras itu bukan anaknya. Menuduh istrinya selingkuh dan dia pun menolak tinggal bersama istrinya. Namun setelah 5 tahun berpisah, dia sadar, mencabut tuduhan terhadap istinya dan kembali tinggal bersama istrinya tersebut. (Tuduhan keliru tentang perselingkuhan istri merupakan tema yang sering muncul dalam drama Shakespeare. Misalnya: All’s Well That Ends Well, Cymbeline, The Winter’s Tale dan Othello. Dan dalam tiap kasus, sang istri yang berduka karena dituduh dengan tidak adil akhirnya memaafkan sang suami).

Selama 5 tahun berpisah dari istrinya, De Vere berselingkuh dengan seorang putri istana, yang berakhir dengan kehamilan. Ratu Elizabeth murka mendengar hal ini dan memerintahkan penangkapan De Vere dan mengirimnya ke Menara London. Dia dilepaskan setelah beberapa bulan, namun seorang teman putri itu, yang mendendam karena tindakan De Vere, menyerangnya sampai dia terluka parah. Perkelahian jalanan antara anggota dari keluarga yang berbeda ini berlangsung beberapa lama sampai Ratu sendiri turun tangan dan mengancam akan memasukkan mereka semua ke penjara jika tak mau berhenti (Kisah ini mengingatkan kita pada Romeo and Juliet).

Setelah De Vere tinggal kembali dengan istrinya, mereka akhirnya memiliki 5 anak. Lalu tanpa disangka, Anne yang baru berusia 32 tahun, meninggal mendadak . Empat tahun kemudian, De Vere akhirnya menikah lagi dan istri keduanya ini hidup lebih lama dari pada De Vere sendiri.

Pada tahun 1586, ketika De Vere berusia 36 tahun, Ratu Elizabeth menganugerahi pensiun seumur hidup dengan jumlah yang fantastis, jika diibaratkan pada saat sekarang sama dengan $100.000 per tahun, dan ini tanpa dipotong pajak. Entah apa yang ada di pikiran Ratu dan entah apa yang terjadi, karena Ratu Elizabeth biasanya terkenal bertangan besi dalam hal uang. Yang makin mengherankan, hibah uang pensiun ini diberikan tanpa mengharuskan De Vere melakukan apa pun sebagai imbalannya, atau pun jasa-jasanya dimasa lalu yang layak dianugerahi hibah seperti ini. Santunan ini diberikan secara berkelanjutan dan teratur hingga ratu wafat, dan penggantinya (Raja James I) meneruskan pembayaran santunan ini walaupun ratu telah wafat.

De Vere selalu meminati puisi dan teater, berteman dengan banyak tokoh sastra dan terkenal telah menulis puisi dan drama dengan namanya sendiri pada saat usianya masih muda. Akan tetapi, dia tidak pernah menerbitkan apa pun karena paham pada saat itu tabu apabila seorang bangsawan menerbitkan puisi ciptaannya. (Pandangan semacam ini sangat umum berlaku pada saat itu dan hal yang tabu ini jarang sekali dilanggar).

Setelah turunnya santunan dari Ratu Elizabeth, De Vere tidak pernah lagi menulis dengan namanya sendiri. Namun dalam beberapa tahun, mulai muncullah puisi dan naskah drama atas nama seorang penulis yang tak ternama pada saat itu “William Shakespeare”
Surat yang ditulis Edward De Vere (Dalam Bahasa Prancis)

Akhirnya muncul pertanyaan, mengapa Ratu Elizabeth menganugerahkan santunan yang luar biasa kepada De Vere? Walaupun tak ada alasan yang resmi, penjelasan dan dugaan yang cukup masuk akal adalah Ratu, sebagaimana banyak monarki sebelum dia, menjadi patron /penyokong dari seorang artis berbakat dengan harapan pencapaian seni itu akan mengharumkan masa di mana dia berkuasa. Jika ternyata itu alasannya, maka jelas ratu mendapatkan imbalan yang sesuai. Bahkan, tak ada penguasa sebelum dan sesudah dirinya yang membuat pilihan setepat ini.


Setelah dianugerahi pensiun oleh Ratu, De Vere yang tadinya sangat aktif berkeliaran di Balairung memilih untuk mengundurkan diri dari kehidupan istana. Dari sini kita dapat berasumsi, bisa saja De Vere menghabiskan 18 tahun terakhir hidupnya untuk menulis dan memperbaiki naskah drama dan puisi dahsyat yang membuat “William Shakespeare” ternama. De Vere wafat pada tahun 1604, dimasa adanya serangan wabah penyakit dan dimakamkan dekat kampung halamannya di Hackney, dekat desa Stratford (Perlu dicatat bahwa terdapat dua kota di Inggris yang bernama Stratford, dan pada masa itu, kota ini lebih besar daripada Stratford-Upon-Avon).


Entah itu kebetulan atau tidak, wawasan+ merasa Edward De Vere ini sangat cocok untuk ciri-ciri William Shakespeare yang misterius ini.

Pertama, dia punya latarbelakang pendidikan yang sangat baik, mempelajari hukum, dan sangat mampu berbahasa asing (selain Bahasa Inggris, De Vere menguasai Bahasa Prancis dan Latin).

Kedua, dia seorang bangsawan dan memiliki pengetahuan sebagai orang dalam istana beserta intrik-intriknya.

Ketiga, dia memiliki banyak waktu luang yang diperlukan untuk mengarang naskah-naskahnya.

Keempat, dia berminat pada teater sejak kecil. Dikenal menulis puisi dan drama atas namanya sendiri semasa muda. Bahkan, dia disebut-sebut sebagai salah seorang bangsawan yang menulis puisi, tapi karena tabu pada saat itu, karya-karya atas namanya tidak dipublikasikan.

Kelima, drama-drama William Shakespeare mengandung sejumlah besar peristiwa dan karakter yang dapat dikaitkan dengan peristiwa, dan situasi-situasi dalam kehidupan Edward De Vere.

Keenam, entah kebetulan atau tidak, dan entah ini bisa dijadikan petunjuk atau tidak, adanya kemiripan nama orang dan tempat antara Edward De Vere dengan William Shakespeare. Nama Istri De Vere “Anne Cecil” dan nama istri Shakespeare “Anne Hathaway”. De Vere dimakamkan di dekat kampung halamannya di Hackney, dekat desa Stratford, sedangkan William Shakespeare dimakamkan di Stratford-upon-Avon.


Penjelasan barusan adalah hal-hal yang menguatkan De Vere sebagai Willian Shakespeare, namun muncullah sebuah pertannyaan yang dapat memberatkan De Vere sebagai William Shakespeare, Mengapa De Vere menyembunyikan identitas kalau memang dia adalah William Shakespeare, Sang sastrawan legendaris? Toh Kalau dia tidak menyembunyikan pastinya dia akan makin terkenal dan makin dihormati. Ada beberapa kemungkinan penjelasan yang masuk akal, yaitu:

1. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Ada tabu keras di masa itu yang melarang penulisan puisi oleh para bangsawan, atau naskah drama untuk teater komersial.


2. De Vere adalah orang dalam istana. Karena kebanyakan naskahnya terkait dengan kehidupan istana, jika dia mengaku sebagai penulisnya, maka banyak orang pasti akan beranggapan bahwa berbagai tokoh dalam drama tersebut dimaksudkan sebagai parodi-parodi untuk mengejek orang-orang yang benar-benar nyata di istana tersebut. Dengan standar pada masa itu, ini setidaknya akan menjadi alasan untuk menggugat De Vere ke pengadilan. Dengan menyembunyikan identitasnya, De Vere berusaha untuk menghindari hal-hal demikian.


3. Banyak Soneta William Shakespeare ditujukan kepada seorang wanita yang dicintainya. Jika misalkan De Vere mengaku sebagai penulisnya, hal ini akan membuat malu istrinya.


4. Yang lebih parah, banyak soneta-soneta lainnya yang ditujukan kepada seorang pria, dan diartikan sebagai petunjuk bahwa penulisnya merupakan seorang homoseksual atau biseksual. Entah interpretasi ini tepat atau tidak, pengakuan De Vere yang menulis soneta-soneta tersebut pasti akan menimbulkan gosip tak sedap yang akan memnuat malu keluarganya.


5. Bisa saja sebagai syarat pensiun yang dianugerahkan kepadanya, Ratu Elizabeth bersikeras kalau dia harus tutup mulut, tidak boleh menerbitkan apa pun atas namanya sendiri, dan tidak boleh melanggar norma-norma yang berlaku pada saat itu.

Sebenarnya, Kalau memang De Vere adalah William Shakespeare yang asli, kita tidak bisa memastikan 100% apa alasan De Vere menyembunyikan identitasnya sebagai seorang penulis dan sastrawan. Namun kalau menurut wawasan+, De Vere adalah orang yang paling mendekati ciri-cirinya sebagai William Shakespeare, Sang sastrawan legendaris.

Namun beberapa ahli malah menolak teori De Vere sebagai Shakespeare. Sebagian beralasan bahwa De Vere telah meninggal dunia bertahun-tahun (lebih kurang 19 tahun) sebelum karya-karya dalam ‘First Folio’ (berisi 36 naskah drama) Shakespeare dipublikasikan. Sedangkan Shakespeare yang dikenal selama ini meninggal dunia tujuh tahun sebelum karyanya dipublikasikan. Sepertinya memang agak lebih mudah menerima yang meninggal 7 tahun daripada yang meninggal 19 tahun sebelum karyanya diterbitkan.


Bagaimana Sobat, masih penasaran???


Kalau menurut wawasan+, simpan dulu rasa penasaran Sobat karena masih ada beberapa orang lagi yang pernah dicurigai sebagai William Shakespeare. Tapi wawasan+ akan menyajikannya secara ringkas aja, karena menurut wawasan+ ciri-ciri orang tersebut sebagai William Shakespare tidaklah sekuat Edward De Vere. Berikut orang-orang yang dicurigai:


3. William Shakespeare adalah Sir Francis Bacon


Sir Francis Bacon

Sebelum De vere, tokoh yang disebut sebagai penulis asli karya Shakespeare ialah Sir Francis Bacon yang juga merupakan seorang bangsawan dan filsuf pada masa itu. Pendidikan yang cukup membuatnya sanggup untuk menulis puisi dan drama dengan karakter yang begitu kompleks, hal ini membuat banyak dugaan mengarah kepadanya, bahwa ialah sosok yang ada dibalik kesuksesan Shakespeare.


4. William Shakespeare adalah Christopher Marlowe


Christopher Marlowe


Tokoh ini memiliki kisah hidup yang hampir sama dengan Shakespeare, yaitu hidup dengan keterbatasan financial, namun Marlowe sempat mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Sayang, Marlowe tewas terbunuh, dan dua minggu setelah kematiannya pamor Shakespeare sebagai penulis naskah drama pun meroket tajam. Hal ini membuat para anti stratfordian menduga bahwa ialah tokoh penulis asli karya Shakespeare.

5. William Shakespeare adalah Mary Sidney Herbert
Mary Sidney Herbert

Sebagai seorang bangsawan wanita, ia memiliki pendidikan yang tinggi dan dianggap mampu menulis karya yang diakui sebagai karya Shakespeare. Walaupun ketika ‘First Folio’ dipublikasikan Mary telah wafat, namun Shakespeare mendedikasikan karya tersebut kepada kedua anak Mary, ini membuat spekulasi berkembang bahwa mungkin saja memang benar Mary adalah penulisnya.

6. William Shakespeare adalah William Stanley


William Stanley

Ia merupakan seorang bangsawan yang gemar bertualang, memiliki ketertarikan pada drama dan komedi serta memiliki beberapa usaha teater. Muncul dugaan bahwa Stanley lah sebenarnya orang yang menulis karya-karya Shakespeare. Tetapi menurut pihak lainnya, Stanley tak lebih dari rekan kerja Shakespeare.

7. William Shakespeare adalah Fulke Greville





Fulke Greville

Sebagai seorang bangsawan, Greville pun sering disebut-sebut sebagai Shakespeare yang sebenarnya. Ia pernah bekerja bersama Sir Francis Bacon dan Sir William Dyer, keduanya merupakan tokoh yang disebut-sebut sebagai otak dibalik tulisan Shakespeare. Meskipun begitu Gruville tak pernah benar-benar memiliki bukti yang mengarah padanya sebagai penulis asli karya Shakespeare.


Sumber Bacaan:
Hart, Michel H. (2009). 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah. Alih bahasa oleh Ken Ndaru, M. Nurul Islam. Bandung: Hikmah.
http://id.wikipedia.org/wiki/William_Shakespeare
http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_de_Vere,_17th_Earl_of_Oxford
http://tonyhamidi.multiply.com/journal/item/19/Siapa_penulis_asli_Shakespeare?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://www.memobee.com/index.php?do=c.every_body_is_journalist&idej=889

Sumber gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/5b/Shakespeare-Testament.jpg
http://noemizeta.files.wordpress.com/2010/01/shakespeare.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/Hamlet_quarto_3rd.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/85/Edward_de_Vere.JPG
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/af/Darnley_stage_3.jpg
http://www.sciencephoto.com/image/223863/530wm/H4020655-Francis_Bacon,_English_philosopher-SPL.jpg
http://img.wikinut.com/img/9oe-96q8fjj_fvr0/jpeg/0/Christopher-Marlowe.jpeg
http://www.noendpress.com/adarrah/images/marysidney.jpg
http://www.toptenz.net/wp-content/uploads/2011/09/william-stanley.jpg
http://ayearofshakespeare.files.wordpress.com/2010/02/fulke-greville.jpg
http://hankwhittemore.files.wordpress.com/2012/01/rightside-up-french-letter.jpeg